Senin, 23 Januari 2017

Orang Orang Gerbong

"jadi lelaki bujang itu masih enak, Mas. kalau nggak punya duit, paling-paling bisa ngutang atau mentok-mentoknya nahan laper. tapi kalau sudah jadi bapak, itu beda urusan. beda perasaan. kadang-kadang, waktu yang paling menyedihkan bagi seorang bapak adalah ketika keluarganya sedang membutuhkan sesuatu, sedangkan dia sendiri tidak punya apa-apa" - KA Bogowonto, 2017. 


Hari Minggu itu saya pilih balik menggunakan kereta dengan jadwal keberangkatan malam hari. Selain emang nyari tiket yang paling murah, sepertinya kereta malam itu lebih tenang dan bisa buat istirahat. Berangkat dari Depok, saya diantar Pakdhe dan asistennya sampai ke Stasiun Pasar Senen. Dengan harapan bisa istirahat tidur di kereta, ternyata malam itu malah jadi salah satu malam yang paling 'mikir' buat saya. 

Orang-orang di gerbong itu kebanyakan sudah terlelap, padahal waktu masih pukul 23.00. Ada ibu-ibu yang tidur dengan anaknya, mas-mas dengan pacarnya, mbak-mbak dengan temannya, dan bapak dengan anaknya. Raut-raut wajah yang khas, sarat akan kelelahan. Mungkin karena lelah bekerja, perjalanan jauh, atau karena memang sedang banyak pikiran. Entah berangkat dari hal apa, ingatan saya malah jauh ke belakang, tentang pengalaman naik kereta bersama Bapak. Mungkin juga karena melihat ada sepasang bapak-anak yang cukup membuat saya kangen dengan hal-hal semacam itu. 

Bapak saya selalu bilang, bahwa salah satu syarat menjadi 'manusia' adalah dengan syukur dan ikhlas. Katanya kalau yang dua itu sudah bisa diamalkan, yang lain bakal mengikuti. Sewaktu kecil saya memang tidak terlalu memperhatikan, tapi setelah cukup berumur dan bisa 'mikir', saya jadi nyesel belum sempet minta maaf ke Bapak, kalau dulu sering nyepelein dan cenderung sembrono. 

All the shit my dad tried to share with me I blew off at the time but, for the most part he was right on. Sorry dad it took me this long to learn that. My life would have been a lot easier if I had listened...I guess sometimes the simple things in life are learned the hard way hehe. Jadi sedih. 

Lalu bapak-anak yang tertidur di gerbong itu malah membuat saya trenyuh. Saya jadi mikir, mungkin dua tahun, tiga tahun, lima tahun, sepuluh tahun lagi, bisa saja saya berada di posisi dengan bapak anak itu. Ya, saya dan anak saya. Banyak orang bilang, father is son's first hero. Apakah segagah itu untuk menjadi seorang bapak nantinya? Apakah nantinya akah seindah dan semudah itu? Lagu Father and Son-nya Cat Stevens malah jadi pilihan sambil kereta menembus kabut-kabut persawahan malam. 

Bapak saya selalu bilang, "Bapakmu ini bukan orang punya (bapakmu iki udu wong nduwe)". Bapak juga berkata, bahwa hidup itu selalu ada proses. Dari goblok jadi pinter, dari muda jadi tua, dari takut jadi berani, dan lain hal. Pernah suatu waktu saya dimarahi Bapak karena gelut dengan teman satu sekolah. Katanya, kalau mau dewasa itu bukan dengan adu kekuatan. Belakangan saya tau, maksudnya Bapak adalah kedewasaan itu hadir lewat kemampuan menahan diri. Ya nahan marah, nahan lapar. Sabar. 

Bapak juga sering cerita tentang idolnya. Bapak selalu cerita tentang perjuangan bapaknya sendiri. Dulu orang tuanya kemana-mana jalan kaki. Dulu orang tuanya prihatin. Dulu orang tuanya sabar. Dan sepertinya hal-hal semacam itu 'nurun' ke Bapak. Tetapi Bapak selalu ngasih pilihan yang demokratis. Bapak nggak pernah maksa saya untuk ikut, atau 'niru' Bapak. Salah satu hadiah terbesar yang Bapak kasih ke anak laki-lakinya adalah kepercayaan. Seolah-olah kalau Bapak bicara, ada kata-kata yang tertahan di sorot matanya. Bapak juga jarang ngasih tau, apa itu hidup, bagaimana cara menjalani hidup. Bapak ngasih contoh dan itu cara dia memberi penjelasan. 

Adek saya pernah bertanya, bagaimana caranya ikan bisa bernafas di dalam air. Saya coba kasih penjelasan yang paling sederhana. Dan adek saya tetep bertanya, berulang-ulang. Dan saya malah jadi sadar, mungkin ini juga yang Bapak lakukan sewaktu saya kecil. Mengenalkan dunia dan isinya satu per satu. Ada perasaan sedih ketika seorang Bapak tidak dapat memenuhi ekspektasi dari anaknya, terutama anak laki-laki. 

Makanya Bapak selalu terlihat gagah, padahal Bapak punya penyakit darah. Bapak selalu terlihat cerdas, motivasi agar anak laki-lakinya mau bekerja keras, Bapak selalu terlihat semangat, karena hidup memang berat. Bapak selalu ingin banyak hal. Karena Bapak ingin saya terjamin, terpenuhi, terlindungi. 

Titip rindu untuk bapak, dari anakmu yang sedang berusaha menjadi laki-laki sepenuhnya. Ingatan yang panjang membayang, serta doa-doa yang malam itu aku haturkan. Semoga sehat di sana Pak.