kopi menyenangkan.
Tuhan kan Mahatau, sebaiknya aku titip pesan kepadaNya.
Apa kabar, Pak? Aku punya keyakinan, kau sedang bahagia disana menunggu kami. Tuhan jaga kau baik-baik kan? Aku akan selalu berdoa agar Tuhan perlakukan kau dengan baik. Dengan hebat.
Ada kabar bahagia Pak. Icha sudah dapat membaca, aku yang mengajarinya. Seperti pesanmu yang dahulu :
" Boleh kau sekaya raja, apabila tak berilmu sama saja kosong. Carilah banyak ilmu, lalu tularkan. Lekatkan pada ingatan masing-masing manusia yang kau ajarkan mengenai ilmu tersebut. Dengan begitu kau akan dianggap berilmu. Punya ilmu dan menularkan ilmu, maka kau dianggap manusia yang isi. Tak kosong lagi. "
Tak lupa aku ajari Icha berhitung, yang lebih sulit dari anak seusianya. Orang kan perlu belajar ilmu pasti? Agar tak mudah diakali oleh orang lain. Meski kadang anakmu yang paling kecil itu marah karena aku terlalu memaksanya, namun akhirnya dengan sedikit rayuan tentang permen dan es krim, maka luluhlah juga hati kekanakannya. Kadang aku melihatnya menjadi tumbuh tinggi sekarang, dengan rambut ikalnya yang mulai menghitam. Adikku yang satu ini akan jadi juara seperti abangnya. Tentu aku yakin betul, Pak.
Adikku yang besar? Sudah remaja dia, Pak. Kemarin aku melihat beberapa tumpuk buku novel diatas meja beajarnya. Rupa-rupanya dia telah menang lomba cerpen. Tanpa sepengetahuanku. Dan aku hanya senyu-senyum, adikku yang besar pun sudah mampu mengerti sedikit mengenai hidup, walau hitungan umrnya masih berhenti pada angka 14.
Mama? Jika Bapak bertanya soal Mama, ya masih sama seperti dulu. Meski keriput mulai ada pada wajahnya, dan sisa-sisa kelelahan seusai mengurusi kami, namun tetaplah Mamaku ibu juara nomor satu di dunia. Masakannya pun tetap enak, dan Mama sudah tidak menangis lagi. Jiwanya kuat seperti karang, badannya tegar seperti batang pohon jati. Kini aku tahu rahasiamu, Pak. Kau tidak memilih wanita yang salah. Istrimu memang benar-benar tulus.
Lalu apabila kami, mungkin aku terutamanya, merasakan kangen terhadapmu, bagaimana bisa kau menjawabnya? Apa benar doa-doaku telah sampai kepadamu, Pak? Lantas bagaimana jika ada pertanyaan dari adik-adikku yang menyulitkan, dan aku tidak dapat menjawab dengan baik, apakah kau masih bisa memberiku arahan seperti dulu? Ketika uang kami menipis, kami masih berharap pada gaji pensiunanm, lalu bagaimana jika itu masih kurang, sedang kebutuhan pokok sekarang makin naik? Apa bapak juga kangen kepada kami?
Rumah kita sudah hampir jadi, delapan puluh persen. Orang-orang menghormati keluarga kita karena atas jasamu.
Dan setelah aku belajar, selama kepergianmu, aku belajar.
Ayah selalu ingin terlihat hebat, gagah, dan bagus di depan anaknya. Begitu kan?
Karena memang seperti itulah yang aku lihat atasmu. Tak pernah sekalipun kau merengek ketika jarum-jarum obat dimasukkan ke dalam kulitmu. Tak ada air mata yang keluar, ketika puluhan kantong darah masuk ke tubuhmu. Bahkan ketika trombositmu nol, kau merasa kedinginan setengah mati, kau masih tetap berusaha menjadi kuat meskipun kami tahu bahwa sakitmu sudahlah terlalu parah. Aku ingat betul ketika itu, kau minta dibawakan video srimulat. Ya tentu aku bawakan. Sedikit mengobati penyakitmu. Sedang sudah 3 bulan aku hitung kau tidak pernah tertawa lepas. Seperti ada ganjalan besar yang menggagalkan matamu untuk tertutup tidur. Apakah saat itu kau memikirkan kami, keluargamu? Atau masa depan anak-anakmu? Begitu kau paksakan untuk terlihat hebat, terlihat bagus.
Ayah selalu ingin terlihat pintar, meski Ayah pun tahu kelak pengetahuannya akan tersusul oleh anaknya.
Pernah suatu ketika aku benar-benar tidak mampu mengerti pelajaran. Saat itu aku ingat betul aku baru boleh duduk di kelas 2 SD. Kau hajar aku habis-habisan agar mengerti soal ilmu eksakta itu. Kau caci lah, tempeleng lah, bahkan hingga tengah malam. Hasilnya? Kini aku dianggap cukup mampu untuk menyelesaikan soal-soal yang sulit untuk seusiaku. Aku tau kau tak ingin aku menjadi anak yang bodoh Pak. Kau antarkan aku pergi mengaji ke surau dekat rumah itu. Setelah remaja, baru kau minta aku untuk mengajarimu mengaji. Tentu agar aku lebih banyak mendapat pahala dengan dapat membaca, dan dapat mengajarimu. Kini aku malu, belum sempat lah aku hajikan kau, ah sudahlah.
Salah satu harta terbaik kepunyaan seorang Ayah adalah anak laki-lakinya.
Beberapa hari lalu aku buka kembali album foto, dan kudapati foto kita berdua. Like father like son. Seorang anak laki-laki tentu tidak akan jauh berbeda dengan bapaknya. Itu pun berlaku padaku. Meski kadang kau tak selalu memberitahuku tentang sesuatu, namun cara yang kau pakai adalah kau menunjukkan jalannya. Pak, aku ingat betul, kau wanti-wanti aku agar tidak terjerumus ke dalam dunia hura-hura. Kau suruh aku sholat tepat waktu. Segala sesuatunya kau buat serba disiplin.
Bagaimana jika nanti suatu saat aku sudah wisuda dan mendapat gelar sarjana? Bagaimana jika nanti semua anakmu menjadi orang sukses? Bagaimana jika nanti suatu saat aku punya putra? Bagaimana jika nanti ada pertanyaan lain yang aku belum paham maksudnya? Bapak, kau selalu dapat mengajari kami segala hal.
Aku kadang kesal, Pak. Keadaan memaksaku berdiri pada sudut ketidakpahaman. Teman-temanku mengajakku keluar, untuk sekedar melepas penat. Tentu sebagai anak muda aku pun mau, namun sejurus kemudian akun berpikir tentang berapa uang yang harus aku keluarkan. Apakah kegiatanku untuk sekedar melapas penat ini cukup penting untuk segera dilaksanakan?
Aku harus cari uang untuk kehidupanku sendiri. Seperti seorang bapak yang sangat malu apabila tidak membawa pulang uang untuk keluarganya. Sudah bukan waktuku untuk bersenang-senang. Jalanku tentu semakin terjal, Pak. Dan aku harus membimbing adik-adikku di jalan yang sulit ini.
Bagaimana jika aku tidak menjadi hebat sepertimu? Apabila aku punya putra kelak, cucumu, akan aku katakan bahwa kakeknya adalah Bapak Juara Nomor Satu di Dunia. Salamku kepada Bapak, Tuhan tolong Bapakku, dia juara.
kopi habis dan bekas hitamnya ada di dasar cangkir.
Tuhan menutup amplop penuh rindu dari laki-laki itu. Setelah itu Tuhan tersenyum, mengabulkan doa-doa orang yang ingin mengabdi tulus kepadaNya. Tuhan Mahatau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar