Minggu, 07 Agustus 2016

Refleksi: Ada Yang Mengajarkan Tentang Kehidupan #1




20 Juni 2016. 


Meninggalkan Jogja yang hangat, ke dalam rimba waktu Wonosobo yang dinginnya entah, mungkin karena kami waktu itu masih manja-malu, belum saling mengenal. Ada perasaan kaget, malas yang menumpuk, kebingungan bagaimana itu-ini nantinya, atau apapun itu yang masih terasa abu-abu. Udara waktu itu memang dingin, tetapi kehangatan kami memang hadir sejak hari itu juga. Atau mungkin lebih awal adanya? Entahlah, menerawang urusan hati orang lain itu kan sulit, sesulit apakah segala macam kenangan ini akan bertahan dalam waktu yang lama, atau mungkin waktu akan menggerus keberadannya. Koper-koper masuk. Karpet dan kasur tergelar. Ada rerasan di dalam hati, "Kita akan tinggal disini selama satu setengah bulan". Segala yang dimulai mempunyai akhir, rerasan pada awal kedatangan ini ternyata berubah total. Rumah putih sederhana itu telah berjasa penuh. Membangun ratusan kenangan, ribuan detik waktu obrolan. Hidup satu kali mengenal, mati seribu kali mengenal. 


"Iki jam piro sih? Iki adzan sholat opo e?" 

Kira-kira begitulah reaksi kami ketika sampai di pondokan dan terkejut, karena di Maron (desa tempat kami tinggal dan kerasan) adzan Ashar baru berkumandang sekitar pukul setengah 5, waktu ketika warga pulang dari wana (hutan). Juga Pujir yang tiba-tiba menyanyikan Faded, awalnya terasa absurd, tapi lama-kelamaan akhirnya terbiasa juga, bahkan ikut menikmati. Kami datang dalam suasana bulan Ramadhan yang syahdunya setengah mati. Ada 19 mushola di Maron plus satu masjid, yang semuanya ketika ba'da Maghrib selalu bergemuruh. Lantunan ayat suci yang mengudara di atas langit-langit pondokan kami, masuk ke dalam telinga, kemudian membekas di pikiran dan hati. Masya Allah, sehebat itukah kekuatan dari apa yang disebut dengan 'mengingat', atau lebih tepatnya 'mengenang'?

Malam pertama, kami bersiap dengan segala macam peralatan tidur. Memang begitu, agenda tidur kami harus diawali dengan acara pra-tidur: atur posisi, sleeping bag, sambil was-was kalau-kalau ada tikus yang meluncur ke bawah. Juga cerita-cerita pengantar tidur yang menjadi penghangat tambahan, penghangat yang membuat nyaman.  Ada juga suara-suara air di samping pondokan, blumbang yang biasa kami sebut dengan 'kaldu ikan' itu tidak pernah berhenti mengalir. Tidak ada yang berani mandi sore pada hari itu, satu alasan yang sama: dingin. Satu per satu cerita tersusun dari awal yang mengesankan ini. Pujir yang mengorok and Baping too, Adam dengan selimut pink, Dok Andy yang selalu tenang, Taufiq yang selalu mlungker. Lucu juga jadinya, ketika para perempuan harus selalu menaiki tangga untuk sampai di dunia atas, juga laki-laki yang ingin berkunjung ke dunia bawah, harus bersiap dengan teriakan kompak: Tidaaak!

Hari ke depannya, jadwal piket telah tersusun, warung penjual galon terdekat telah ditemukan plus berkenalan dengan pemiliknya, juga catering makanan siap ambil. Dan ternyata pagi hari di Maron sangat berkesan. Sahur pertama bersama teman (yang selanjutnya aku anggap sebagai 'keluarga') satu pondokan. Dengan wajah-wajah mengantuk dan badan yang tertutup sarung. Menu seadanya, makan bersama, diingat selamanya. Seperti masuk ke dalam mesin waktu saja ketika harus mengingatnya nanti, memasuki lorong-lorong dimensi yang sebenarnya sudah berada jauh di belakang. Lalu air wudhu subuh yang terasa seperti air kulkas. Sholat sambil menggigil. Lalu tidur lagi. Karena dingin. Karena waktu itu kami masih kangen rumah, kangen segala macam hal yang tersedia di Jogja. Atau sebagian dari kami malah mencari-cari sinyal internet.

Dua hari setelah kami datang, dua alien kecil datang bermain di sekitar pondokan. Awalnya kami tak mempedulikan mereka, karena memang sepertinya mereka sedang sibuk bermain dengan bambu, membentuk sebuah kerangka layang-layang, padahal angin disini cukup payah untuk bermain mainan itu. Atau mungkin sebenarnya mereka pada waktu itu hanya malu untuk berkenalan? Aku tak terlalu paham. Yang jelas, menjelang kepulangan kami, mereka meninggalkan perasaan haru juga titipan doa kepada dua orang kecil itu, yang kemudian kami ketahui bernama Wahyu dan Juli. Dua alien yang membuat kami merasa di rumah, 'home'. Juga candaan ndeso yang mereka tertawakan, entah pada saat itu kami tertawa bersama mereka, atau kami yang ditertawakan. Dunia anak-anak memang penuh dengan kesenangan, dan kesenangan itu menular kepada kami dari hari ke hari. Ada kekaguman, aku yang awalnya tersadarkan, bahwa dua alien itu masih alami, bersih dari sentuhan gadget yang terkadang menjengkelkan. Hari-hari awal itu, mereka masih malu-malu untuk masuk pondokan. Selalu berlari ketika hendak diajak interaksi, tetapi tetap saja ada senyuman yang tersungging di wajah-wajah itu. Juli selalu mengedipkan mata dan sedikit bergeleng! Khas alien yang satu itu ketika berbicara.

Wahyu, memang terlihat sedikit lebih tua dari Juli, padahal ia justru lebih muda. Gaya berbicara yang khas, bukan hanya perihal karena ngapak-nya, tetapi memang lucu luar biasa. Ekspresif, apa adanya. Produk asli Maron yang unik, tidak ada di lain tempat. Alien kecil yang sulit ditebak. Penuh kejutan. Walau awalnya terkesan seperti anak nakal, tetapi kami tahu kalau sebenarnya Wahyu anak yang baik. Beberapa kali kami sempat dibantunya mengumpulkan alien-alien kecil yang lain. Anak desa yang hanya mengenal bermain dan belajar. Sebersih kabut tipis yang selalu turun tiap-tiap pagi.

Ada yang mengajarkan tentang kehidupan. Waktu dan kesempatan. Ada banyak hal yang belum terkabarkan, tapi terasa baru saja. Sepertinya berkata-kata adalah tugas yang sulit, meski hal-hal itu terus ada di dalam pikiran. Lalu seberapa lama kita akan mengingatnya? Atau secepat apa kita akan melupakannya? Entahlah. Kita adalah anak-anak dari sungai waktu yang entah pula. Mengingat adalah kuasa Tuhan yang nyata, dan memiliki adalah karunia Tuhan yang ternyata benar adanya. Kita memang akan pergi, dan ditinggalkan pergi. Satu yang dapat tinggal untuk waktu yang lama ialah doa.

Ada yang mengajarkan tentang kehidupan. Mungkin bener juga kata Ipang, "kesempatan seperti ini, tak akan bisa dibeli". Memangnya kita bisa apa? Membuat mesin waktu? Kemudian berduyu-duyun kembali ke masa lalu, menemui diri kita di masa itu dan berkata, "Ah, betapa bahagianya kita di waktu itu". Lalu kita tersadar dan menatap kenyataan, kita di waktu itu akan lama berganti, menjadi sosok-sosok yang lebih tua, dan yang tersisa hanya apa yang ada di dalam sanubari. Kekagumanku terhadap apa yang kalian ajarkan tidak akan pernah habis! Ini bukan tentang perihal nilai-nilai dan aturan di atas kertas, ini adalah pelajaran tentang kehidupan. Kalian membawaku pada universitas kehidupan dengan materi kuliah berupa keiklhasan, menghormati, memberi, menerima, dan banyak lain lagi.

Ada yang mengajarkan tentang kehidupan. Lalu apa kabarnya Maron esok hari? Apakah mereka masih sama, menampakkan senyum-senyum di udara yang dingin? Bernafas dengan asap yang keluar dari mulut? Masjid-masjid yang tak lelah berkumandang? Apakah air masih susah? Apakah sudah punya tempat sampah? Apa Pak Turyanto hari ini masih berjualan mie ayam? Apa warung Pak Purwanto masih berjualan galon? Apa Pak Barjo masih berdagang kambing? Apa Pak Joko masih setia membina pemuda? Apa Pak Marji masih tegar berjuang demi warganya? Apa tempe kemul itu masih hangat? Apakah jalananmu sudah diperbaiki aspalnya? Apakah anak-anak SD itu sudah semakin rajin belajar? Apakah bapak-ibu pemain drum band itu sudah dipensiunkan, lalu diganti dengan mereka yang lebih kuat? Apakah balai desamu telah selesai berdiri gagah? Segala keterbatasanmu membuatmu istimewa!

Ada yang mengajarkan tentang kehidupan. Biarlah yang telah menjadi apa yang tersimpan. Dan doa yang kekal mengiringi. Ayo kita ulangi lagi! Kita buat ribuan kisah yang berbeda! Kita pelajari lagi berbagai macam mata kuliah di universitas kehidupan. Sebesar itu keyakinanku, sebesar itu pola doa-doa yang menyertai kalian.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar