Kamis, 11 Agustus 2016

Refleksi: Ada Yang Mengajarkan Tentang Kehidupan #2




di antara
galaksi
sembilan planet
ratusan negara
ribuan pulau
milyaran manusia 

ada hal yang patut disyukurkan 
dan ada kenangan yang harus diikhlaskan
ada doa yang harus disegerakan
sebab Allah telah siapkan rencana di masa depan

and I had the priviledge of meeting you


Salah satu momen yang paling menyenangkan pada awal-awal waktu kedatangan kami adalah hangatnya suasana buka puasa dan sahur. Suhu rata-rata diwaktu sahur adalah 13-15 derajat celcius, cukup dingin untuk membuat kental minyak di dalam kemasan mie instan kami. Sahur yang biasanya kami lewati sendiri di Jogja, lalu berubah beramai-ramai di pondokan. Mushola selalu ramai, tidak hanya dengan lantunan ayat suci, beberapa kali kami dengar, ada mushola yang menyiarkan lagu dangdut. Kemudian setelah mendengar itu, kami tertawa bersama. Desa ini benar-benar menakjubkan! Unik dan aneh! Satu lagi, ngangenin! Sayang untuk mengakhirinya.

Di belakang Rumah Putih Kebahagiaan itu ada kebun sayuran. Juga penampilannya yang selalu cantik setiap paginya dengan Sindoro yang kekar membumi. Tidak ada keramaian kendaraan seperti di kota, tidak ada kekhawatiran menuju tempat kerja, tidak ada kecemasan akan hari tua yang entah bagaimana, di sini, yang ada adalah pelajaran mengenai ikhlas dan syukur. Dan hari-hari pembelajaran itu diawali dengan surutnya air yang mengalir ke pondokan kami. Empat belas anggota keluarga, satu kamar mandi, tanpa air. Apa jadinya? Maklum saja kami mengeluh, belum adaptasi rupa-rupanya. Tapi lama-kelamaan terbiasa juga, toh mandi juga sehari sekali. "Mandi hanya untuk orang-orang kotor", begitulah sebagian dari kami berdalih.

Wahyu (alien kecil yang sering meringankan pikiran kami) juga berkata bahwa air memang kadang-kadang susah, sesusah memahami keadaan mengapa hal ini berlangsung lama. Beruntung, di depan pondokan ada kotak ajaib berukuran tak terlalu besar  berisi aliran air bersih yang awalnya tidak layak pakai. Tanpa tedeng aling-aling, kami mencuci piring kotor dan mengambil beberapa ember air tanpa meminta izin terlebih dahulu. Dan esok harinya, sebuah surat cinta menempel di depan pintu pondokan. Seperti Isti yang pertama tahu surat itu. "Pondokan KKN ra gelem takon wong" - kira-kira itu lah yang tertulis dari surat cinta itu. Sampai KKN berakhir, penulis surat cinta itu belum mengaku, atau mungkin dia benar-benar jatuh cinta dengan kami, atau apapun itu yang jelas, kami diajarkan untuk berkenalan dengan sopan. Karena kami seharusnya pada waktu itu tahu, kami pendatang yang memang seharusnya memahami masyarakat, bukan memaksakan teori yang kami punya untuk langsung diaplikasikan. Hmm cara berkenalan dengan surat sepertinya sudah jarang di abad pragmatis ini, ketika setiap orang dapat dengan mudah menyapa orang lain lewat segenggam kotak ajaib bernama smartphone.

"Piket hari ini, menu buka puasanya apa nih? Udah beli galon? Ada motor selo nggak? Duh nggak ada sinyal nih! Mager banget, diluar dingin"

Itulah beberapa kalimat yang biasa kami gunakan. Juga "Ommo"-nya Kikiw yang sering mulai terdengar. Ritual ngabuburit yang biasa kami lakukan sebelum buka puasa adalah: 1. siapkan film untuk hari ini, 2. siapkan proyektor, 3. siapkan speaker, 4. sinergikan semua alat menjadi satu, 5. matikan lampu dan selamat datang di layar tancap penuh kehangatan di Rumah Putih. Beberapa film (yang sebenarnya sudah kami tonton) malah menjadikan suasana makin akrab. Meskipun kadang-kadang diluar hujan. Wow wow ayo kita ulangi lagi guys! Buka puasa bersama kalian dengan penataan piring, kertas minyak, sendok dan menu di karpet dunia atas itu sungguh patut untuk disyukuri! All of you told me how to respect each other. Satu cerita teringat di dalam hati. Kemudian untuk menghangatkan tubuh, ada beberapa nutrisi yang biasa kami makan. Satu, bon cabe (yang menurutku ini adalah salah satu penemuan terbesar abad 21) dan juga sambal my love ala Afifah. Terkadang ada beberapa hal sederhana yang awalnya kita sepelekan, kemudian hal itu tiba-tiba menjadi salah satu bingkisan yang bagus untuk dikenang. Kesuksesan memang membutuhkan proses, dan kalian mengajarkan bahwa proses itu tak melulu sulit.

Suasana Ramadhan, maka tarawih adalah salah satu hal yang paling tepat untuk menyatukan diri dengan warga. Ekspektasi kami, tarawih di Maron tidak jauh berbeda dengan di Jogja. Sebelas rakaat, khotbah secukupnya, lalu bisa langsung berinteraksi di jalan sambil menuju Rumah Putih. Ternyata memang Maron penuh dengan kejutan (lagi). Tarawih berjalan dengan 20 rakaat lebih dan dilakukan dengan tempo yang cukup cepat. Beberapa dari kami kaget, belum terbiasa, tetapi sebagian sudah merasa biasa-biasa saja. Tarawih super hebat! Orang-orang datang dengan menutup kepala dengan sajadah. Khusyuk luar biasa. Dan laki-laki Al-Maroni lebih senang menyebutnya dengan legs day. Entah berawal dari apa penamaan itu muncul, yang jelas itu sangat lucu. Selucu wajah-wajah yang selalu menggigil terkena air wudhu. Selucu Pak Barjo ketika menyapa kami waktu itu.

Dan candaan gila pun muncul setelah itu. Cikal bakal diselenggarakannya platinum time, kalau kata Adam.  Candaan yang membuat suasana menjadi lebih cair. Juga Bang Andy yang ternyata asik juga menyediakan bahan obrolan. Taufiq pun terbawa suasana, meski masih malu-malu. Dan pemicu kekacauan dalam obrolan? Aku sendiri. Heboh. Menertawakan orang lain dan menertawakan diri sendiri. Ada wacana yang sempat membuat perut kami sakit menahan tertawa. Beberapa dari kami bahkan sampai berair mata menahan tawa. Aku terkadang masih ingat betul bagaimana wajah-wajah mereka ketika tertawa. Ada yang menggebuk-gebuk kasur, ada yang tertawa kalem, ada yang tertawa sambil berdesis, dan macam hal lain yang membuat keadaan semakin baik tiap malamnya. Mungkin karena hari-hari itu kami juga belum memulai program. Dan menjelang kami tertidur, Pujir selalu memulai lagu Faded-nya lagi. Kemudian suara lagu itu perlahan-lahan mulai hilang. Karena yang tersisa hanyalah kami yang terlelap tidur. Juga ingatan yang menggiringnya ke dalam mimpi. Malam hangat ketika kami berbagi sekotak ruangan tak terlalu luas untuk berenam. Tak ada malu-malu, tak ada ragu-ragu. Dasarnya laki-laki. Dan setelah pulang, setelah KKN usai, aku merasa rugi karena hal-hal semacam ini tidak didokumentasi. Tapi apalah arti dokumentasi, jika ingatan tetap menyimpan itu semua sebagai kado indah yang terbungkus rapi.

Menjelang Idul Fitri, kami menyusun jadwal kepulangan. Karena rindu mulai menempel pada dinding-dinding bayang-bayang rumah kami masing-masing. Ada yang tersalurkan, ada yang bertahan di pondokan. Salut kepada kalian yang merekalakan untuk tinggal di Rumah Putih ketika anggota yang lain menuju kampung halaman. Tetapi Maron juga tidak kalah nyaman. Ada foto keluarga the boys Al Maroni pada H-2 Idul Fitri.



Ekspresi yang ikhlas. Syukur yang menyelaras bahwa kami merasakan indahnya berbagi kebersamaan. Thank you Qanita, kamu sudah menjadi partner yang mendokumentasikan banyak hal agar lebih mudah diingat. Dan cerita-cerita hebat, berlanjut menjelang Idul Fitri terselenggarakan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar